TINJAUAN NARATIF EFEKTIVITAS DAN KEAMANAN ANTIRETROVIRAL PADA PASIEN DENGAN KOINFEKSI HIV-HBV
DOI:
https://doi.org/10.36387/jifi.v9i1.3029Kata Kunci:
Analog nukleos(t)ida, Hepatitis B, HIV, Interferon alfaAbstrak
Koinfeksi HIV dan HBV merupakan masalah kesehatan global dengan tingkat mortalitas tinggi. Berbagai studi telah mengevaluasi clinical outcome terapi antivirus pada pasien koinfeksi HIV dan HBV, khususnya analog nukleos(t)ida dan agen imunomodulator, namun hasil yang dilaporkan masih bervariasi. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan menyajikan sintesis naratif tentang efektivitas dan keamanan terapi antivirus pada pasien koinfeksi HIV dan HBV. Penelusuran literatur dilakukan melalui PubMed dan Google Scholar terhadap artikel yang dipublikasikan tahun 2014-2025 dengan kata kunci terkait HIV, Hepatitis B, nucleos(t)ide analogues, interferon alfa, effectiveness and safety. Hasil menunjukkan regimen TLD (tenofovir+lamivudine+dolutegravir) memiliki efektivitas lebih tinggi dibandingkan TLE (tenofovir+lamivudine+efavirenz) dalam supresi viral load (52% vs 21%, p=0,015). Selain itu, TLD menunjukkan proporsi pasien dengan viral load <200 kopi/mL (93,8%) dan peningkatan CD4 ≥200 sel/mm³ (66,7%). Pada HBV, analog nukleos(t)ida seperti entecavir dan telbivudine, menunjukkan penurunan HBV DNA hingga 51,8-92% serta normalisasi ALT hingga 73,28%. Namun, penggunaan terapi tersebut berpotensi menimbulkan ADR seperti pusing (35,83%), mual (15%), muntah (10,83%), gangguan metabolik, serta penurunan fungsi ginjal terutama pada tenofovir. Interferon alfa menunjukkan potensi dalam meningkatkan serokonversi. Regimen TLD direkomendasikan sebagai rejimen utama karena efektivitas virologi dan profil resistensi yang lebih baik, dengan tetap mempertimbangkan risiko ADR serta kebutuhan pemantauan klinis berkala.
Referensi
1. Organization WH. Global HIV statistics and hepatitis B burden estimates. Geneva: World Health Organization; 2024.
2. Indonesia KKR. Pedoman nasional tatalaksana hepatitis B di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2017.
3. Baethge C, Goldbeck-Wood S, Mertens S. SANRA—a scale for the quality assessment of narrative review articles. Res Integr Peer Rev. 2019;4(1):5. doi:10.1186/s41073-019-0064-8
4. Sari PAK, Widiastuti R, Azmi NA. Analisis efektivitas regimen terapi antiretroviral terhadap status viral load pada pasien HIV di Puskesmas Umbulharjo 1 dan Gedongtengen. Vol. 8. 2025;8(1):70–8. doi:10.35473/ijpnp.v8i01.4001
5. Susanti D, Nuryastuti T, Ikawati Z. Gambaran efektivitas terapi antiretroviral paduan rejimen TLD (Tenofovir + Lamivudin + Dolutegravir) pada pasien HIV di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Majalah Farmaseutik. 2024;20(3):299–308. doi:10.22146/farmaseutik.v20i3.85797
6. Suárez-García I. Long-term tolerability and effectiveness of dolutegravir/lamivudine in treatment-naive people with HIV. J Antimicrob Chemother. 2025. doi:10.1093/jac/dkae456
7. Sulaiman A, Lesmana LA, Nafrialdi, Helyanna. An observational study to evaluate the safety and efficacy of telbivudine in adults with chronic hepatitis B. Acta Med Indones. 2014;46(1):38–44.
8. Chow N. Effect of antiviral treatment on hepatitis B virus integration and hepatocyte clonal expansion. Clin Infect Dis. 2023. doi:10.1093/cid/ciac383
9. Gani RA. Perbandingan profil keamanan tenofovir dan telbivudin terhadap fungsi ginjal pada pasien hepatitis B di Indonesia. J Penyakit Dalam Indonesia. 2018. doi:10.7454/jpdi.v5i3.213
10. Ridruejo E. Efficacy and safety of long term entecavir in chronic hepatitis B treatment naïve patients in clinical practice. Ann Hepatol. 2014. doi:10.1016/S1665-2681(19)30861-0
11. Zhang W. Early clinical efficacy of pegylated interferon treatment in chronic HBV infection. J Viral Hepat. 2023. doi:10.1111/jvh.13792
12. Chi H. Pegylated interferon alfa-2b add-on treatment in hepatitis B virus envelope antigen-positive chronic hepatitis B patients treated with nucleos(t)ide analogue. J Infect Dis. 2017;215(7):1085–93. doi:10.1093/infdis/jix024
13. Li Y. Efficacy of short-term peg-IFN α-2b treatment in chronic hepatitis B patients with ultra-low HBsAg levels. Virol J. 2024. doi:10.1186/s12985-024-02512-w
14. Putrinda IO. Evaluasi penggunaan obat dan efek sampingnya pada penderita HIV/AIDS di salah satu rumah sakit di Kota Tasikmalaya. Pros Semin Nas Diseminasi Hasil Penelitian Program Studi S1 Farmasi. 2022.
15. Yakut A. The relationship between the use of nucleos(t)ide analogs and metabolic parameters in patients with chronic hepatitis B. Eur Rev Med Pharmacol Sci. 2023. doi:10.26355/eurrev_202310_33959
16. Liu H. Inflammation and YMDD mutational patterns in lamivudine therapy for hepatitis B virus. Front Pharmacol. 2021. doi:10.3389/fphar.2021.648170
17. Indonesia KKR. Pedoman nasional penatalaksanaan HIV/AIDS. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2022.
18. Astuti T, Panduwiguna I, Nugrahini L. Kerasionalan penggunaan obat ARV pada pasien ODHA di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tangerang periode Oktober–Desember 2022. J Farm Kryonaut. 2024;3(1):11–6. doi:10.59969/jfk.v3i1.35
19. Organization WH. Consolidated guidelines on HIV prevention, testing, treatment, service delivery and monitoring. Geneva: World Health Organization; 2022.
20. Prasetiawati R. Studi in silico senyawa yang terkandung di dalam rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) sebagai antihepatitis B. J Insan Farm Indonesia. 2021. doi:10.36387/jifi.v4i2.788
21. Sari PAK. Analisis efektivitas regimen terapi antiretroviral terhadap status viral load pada pasien HIV di Puskesmas Umbulharjo 1 dan Gedongtengen. IJPnP. 2025. doi:10.35473/ijpnp.v8i01.4001
22. Yasykurah MM. Penatalaksanaan hepatitis B: kajian pustaka. J Kesehatan Tambusai. 2024 doi:10.31004/jkt.v5i4.35930.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Insan Farmasi Indonesia

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.