TERAPI SULIH (SWITCH THERAPY) ANTIBIOTIK PADA PASIEN PNEUMONIA KOMUNITI DI RSUD WANGAYA KOTA DENPASAR
Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.36387/jifi.v4i1.662Kata Kunci:
Pneumonia Komuniti, Sulih Terapi, Sequential, Switch Over, Step-DownAbstrak
Pasien pneumonia komuniti yang dirawat inap selalu diresepkan antibiotik intravena (IV). Penggunaan antibiotika IV yang tidak tepat akan mengakibatkan peningkatan beban biaya pengobatan dan resistensi antibiotika. Terapi sulih (switch theraphy) antibiotika dari IV ke oral dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai praktik terapi sulih dari pasien pneumonia komuniti. Penelitian observasional dengan desain retrokspektif ini dilakukan dengan mengambil data rekam medik pasien selama periode Januari-Desember 2019. Data yang diambil mencakup data karakteristik pasien, pola penggunaan antibiotika dan pola penggantian antibiotika dari IV ke oral. Pasien dewasa yang menjalankan terapi sulih diikutkan dalam penelitian ini. Data dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan SPSS 17.0. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 78 pasien mendapatkan terapi sulih. Lama waktu penggantian IV ke oral. Sebanyak 55(70,5%) pasien yang diteliti mengalami waktu penggantian antibiotik dalam 48-72 jam sejak dirawat inap. Golongan beta laktam merupakan golongan yang paling banyak digunakan untuk melakukan terapi sulih. Pola penggantian step-down merupakan pola yang paling banyak digunakan dengan angka 48 (61,5%) dilanjutkan dengan sequential dan switch over dengan angka 21 (27%) dan 9 (11,5%) secara berturut-turut. Penelitian ini menemukan bahwa RSUD Wangaya untuk lebih meningkatkan praktik pola penggantian sequential demi menurunkan beban biaya pengobatan pneumonia komuniti.