STANDARDISASI BUAH CABE RAWIT HIYUNG (Capsicum frutescens L.) ASAL TAPIN KALIMANTAN SELATAN
DOI:
https://doi.org/10.36387/jiis.v2i2.121Keywords:
Cabe rawit hiyung, Capsicum frutescens L., standardisasi, spesifik, non spesifikAbstract
Cabe rawit hiyung (Capsicum frutescens L.) merupakan cabe rawit lokal khas Tapin, Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai parameter standardisasi simplisia dan ekstrak buah cabe rawit hiyung. Standardisasi dilakukan dengan menetapkan nilai parameter spesifik dan non spesifik simplisia dan ekstrak dari tiga tempat tumbuh yang berbeda yang meliputi uji organoleptik simplisia, uji mikroskopik, kadar sari larut etanol, kadar sari larut air, susut pengeringan, kadar abu total simplisia, kadar abu tidak larut asam simplisia, cemaran logam berat, pemerian ekstrak, rendemen, skrining fitokimia, pola kromatografi, penentuan kadar flavonoid total, kadar air, kadar abu total ekstrak, dan kadar abu tidak larut asam ekstrak. Hasil uji standardisasi simplisia dari ketiga desa diperoleh rata-rata berupa serbuk, berwarna kemerahan, rasa sangat pedas, berbau khas, terdapat sel epidermis, hipodermis dan parenkrim mesokarp, kadar sari larut etanol 19,55 ± 1,07%, kadar sari larut dalam air 32,33 ± 2,03%, susut pengeringan 2,22 ± 0,51%, kadar abu total 4,11 ± 0,44%, kadar abu tidak larut asam 0,14 ± 0,01%, cemaran logam berat Pb 2,00 mg/kg dan Cd 4,00 mg/kg. Hasil uji standardisasi ekstrak dari ketiga desa diperoleh rata-rata berupa ekstrak kental, berwarna coklat, rasa sangat pedas, berbau khas, dengan rendemen sebesar 19,19 ± 1,03%, kandungan kimia yang terkandung adalah alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, pola kromatogram dengan nilai Rf 0,18; 0,60; 0,98, kadar flavonoid total yang paling besar yaitu desa Sungai Rutas 0,339%, kadar air 11 ± 0,67%, kadar abu total 7,96 ± 0,80%, dan kadar abu tidak larut asam 0,61 ± 0,05%.References
BPOM RI., 2005, Standardisasi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia, Salah Satu Tahapan Penting Dalam Pengembangan Obat Asli Indonesia. Badan POM RI. 6: 1-5.
Depkes RI., 2007, Kebijakan Obat Tradisional Nasional Tahun 2007, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
/Menkes/SK/III/2007, Jakarta.
--------- , 2008, Farmakope Herbal Indonesia. Edisi I. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Kristanti, A.V., Aminah, N.S., Tanjung, M., & Kurniadi, B., 2008, Buku Ajar Fitokimia. Laboratorium Kimia Organik FMIPA Universitas Airlangga, Airlangga University Press, Surabaya.
Kumar, S., Sharma, S., Kumar, D., Kumar, T., Arya, & Kumar. K., 2012, Pharmacognostic Study Anti-inflammantory Activity of Phyllanthus reticulates Poir Fruit. Asian Pasific Journal of Tropical Disease; : 332-335.
Octaviani, T., Guntarti, A., & Susanti, H.. 2014, Penetapan Kadar β-Karoten pada Beberapa Jenis Cabe (Genus Capsicum) dengan Metode Spektrofotometri Tampak. Pharmaciana. 4: 101-109.
Pramudiani, L., & Hasbianto, A., 2014, Cabai Hiyung, Si Kecil yang Rasanya Sangat Pedas. http://kalsel.litbang.pertanian.go.id/ind/index.html.
(diakses tanggal 22 September 2015)
Saifudin, A., Rahayu, & Teruna, 2011, Standardisasi Bahan Obat Alam, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Setiadi, 2011, Bertanam Cabai di Lahan dan Pot. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sukrasno, Kusmardiyani, S., Tarini, S., & Sugiarso, N.C., 1997, Kandungan Kapsaisin dan Dihidrokapsaisin pada Berbagai Buah Capsicum. JM;. 2: 28-34.
Yola R., Zulfarman, & Refilda, 2013, Penentuan Kandungan Kapsaisin Pada Berbagai Buah Cabai (Capsicum) Dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Jurnal Kimia Unand; 2: 115-119.
