AKTIVITAS ANTIPLASMODIUM In vitro DAN IDENTIFIKASI GOLONGAN SENYAWA DARI EKSTRAK ETANOL BATANG MANURAN (Coptosapelta tomentosa Valeton ex K.Heyne) ASAL KALIMANTAN SELATAN
DOI:
https://doi.org/10.36387/jiis.v2i2.119Keywords:
manuran, Coptosapelta tomentosa, antiplasmodium in vitro, IC50, flavonoidAbstract
Resistensi Plasmodium terhadap obat malaria mengakibatkan kegagalan pengobatan. Hal ini merupakan ancaman terlebih belum ditemukannya obat alternatif yang efektif untuk melawan resistensi. Oleh karena itu ketersediaan antimalaria baru sangat diperlukan untuk melawan resistensi. Pencarian obat baru terus dilakukan melalui berbagai cara termasuk eksplorasi dan pengembangan bahan alam. Pemilihan bahan alam biasanya berdasarkan penggunaan secara empiris oleh masyarakat. Tanaman Manuran (Coptosapelta tomentosa Valeton ex K.Heyne) digunakan oleh masyarakat di Kotabaru Kalimantan Selatan untuk mengobati malaria. Penelitian yang dilaksanakan adalah melakukan uji aktivitas antiplasmodium in vitro dengan menentukan nilai konsentrasi penghambatan (IC50ÂÂÂÂÂÂ) dan melakukan identifikasi golongan senyawa dari ekstrak etanol batang C. tomentosa Valeton ex K.Heyne. Berdasarkan identifikasi golongan senyawa kimia dengan skrining fitokimia dan Kromatografi Lapis Tipis menunjukkan adanya senyawa flavonoid, terpenoid, saponin, tanin dan antrakuinon pada batang C. tomentosa Valeton ex K.Heyne. Ekstrak etanol batang C. tomentosa Valeton ex K.Heyne mempunyai aktivitas antiplasmodium in vitro tergolong aktif dengan IC50 45,864 ± 0,76 µg/mL.References
Arnida, Wahyono, Mustofa, & Susidarti, R.A., 2015, In vitro antiplasmodial activity of ethanol extracts of Borneo medicinal plants (Hydrolea spinosa; Ampelocissus rubiginosa; Uraria crinite; Angiopteris evecta), Int J of Pharm and Pharma Sci. 7(5): 72-75.
Bapela, J.M., Meyer, M., & Kaiser, M., 2014, In vitro antiplasmodial screening of ethnopharmacologically selected South African plant species used for the treatment of malaria, J Ethnopharmacol, 3: 245-248
Basilico, N., E. Pagani, D. Monti, P. Olliaro, & D. Taramelli. 1998. A Microtitre-Based Method for Measuring the Haem Polymerization Inhibitory Activity (HPIA) of Antimalarial Drugs. Journal of Antimicrobial Chemotherapy. 42: 55–60.
Bickii, J., Tchouya, G.R.F., Tchouankeu, J.C., & Tsamo, E., 2007, Antimalarial activity in crude extracts of some cameroonian medicinal plants, Afr J Trad CAM., 4 (1): 107-111
Bilia, A.R., P. Melilo de Malgalhaes, MC. Berganzi & FF. Vincieri. 2006. Simultaneous Analysis of Artemisinin and Obtained from a Commercial Sample and SelectedCultivar. J Phytomed. 13: 487-493. Gessler, M.C.,
Nkunya, M.H.H., Mwasumbi, L.B., Heinrich, M., & Tanner, M., 1997, Screening Tanzanian medicinal plants for antimalarial activity, Acta Tropica, 56(1): 65-77.
Harborne, J.B. 2006. Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Edisi ke-2. Penerbit ITB, Bandung.
Karov, D., Dicko, M.H., Sanon, S., Simpore, J., & Traore, A.S., 2003, Antimalarial activity of Sida acuta Burm.f (Malvaceae) and Pterocarpus erinaceus Poir (Fabaceae), J Ethnopharmacol, 89: 291-294.
Moll, K., Ljungstrom, I., Perlmann, H., Scherf, A., & Wahlgren, M., 2008, Methods in Malaria Research, University Boulevard, Manassas, 1-55.
Muktiningsih, S.R., Muhammad, H.S., Warsana, I.W., Budhi, M., &
Panjaitan, P., 2005, Review tanaman obat yang digunakan oleh pengobat tradisional di sumatra utara, sumatra selatan, bali dan sulawesi selatan, Media Litbang Kesehatan XI, 4: 25-36.
Munoz, V., Sauvain, M., Bourdy, G, Callapa, J., Bergeron, S., Rojas, I., et al., 1999, A search for natural bioavtive compounds in Bolivia through a multidisciplinary approach part I. evaluation of the antimalarial activity of plants used by the Chocobo Indians, J Ethnopharmacol., 000: 1-11.
Mustofa. 2009. Obat Antimalaria Baru: Antara Harapan dan Kenyataan. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Kedokteran. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Purwanto. 2011. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Penghambat Polimerisasi Hemdari Fungi Endofit Tanaman Artemisia annua L. Tesis. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Ridley, R.G., 2002, Medical need, scientific opportunity and the drive for antimalarial drugs, Nature, 415: 686-693.
Rosenthal, J.P., 2003, Antimalarial drug discovery: old and new approaches, J experiment Biol, 206: 3735-3744
Satimai, W., Sudathip, P., Vijakadge, S., Khamsiriwatchara, A., & Sawang, S., 2012, Artemisinin resistance containment project in Thailand, responses to mefloquine-artesunate combination therapy among falciparum malaria patients in provinces bordering Cambodia, J Malaria, 11(1): 300-303.
Sherman & Irwin, W., 2011, Magic Bullet to conguer malaria: from quinine to Qinghaosu, ASM Press, US., p. 225
Trager, W., & Jensen, J.B., 1976, Human malaria parasites in continous culture, Science, 193: 673-676.
WHO, 2011, Global Plan for Artemisinin Resistance Containment (GPARC), WHO Press, Geneva, 19.
WHO. 2012. Disease Burden in SEA Region. http:// www.searo.who.int/LinkFiles/Malari a_in_the_SEAR_Map_SEAR_Endemi city_10.pdf. Diakses tanggal 21 Maret 2012.
